Jejak Sejarah Distrik Tua di Jalur Strategis Selatan–Utara Jawa Barat

- Redaksi

Senin, 2 Maret 2026 - 07:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Cicurug, Jejak Sejarah Distrik Tua di Jalur Strategis Selatan–Utara Jawa Barat

i

Cicurug, Jejak Sejarah Distrik Tua di Jalur Strategis Selatan–Utara Jawa Barat

PENATODAY.ID – Wilayah Kecamatan Cicurug memang menjadi sejarah wilayah perbatasan antara Kabupaten Sukabumi dan Bogor, penduduknya lebih senang bermain ke Kota Bogor hingga Jakarta, ketimbang harus ke Kota Sukabumi mengingat jaraknya terlalu jauh dan perjalananya selalu macet akibat Pabrik.

Kecamatan Cicurug diketahui didirikan sebagai distrik pada tahun 1776 ternyata memiliki beberapa fakta unik. Salah satunya adalah sebagai Penanda Navigasi Penting Masa Lalu yang digunakan Bangsa Belanda untuk melakukan Ekpedisi.

1. Warga Cicurug Lebih Senang ke Bogor Dan Jakarta

Berdasarkan catatan, Kecamatan Cicurug merupakan kecamatan dengan penduduk terbanyak yang mencapai 123.944 jiwa dengan total luas 4.576,10 Hektar dan jumlah Desa 12 Satu Kelurahan. Dari jumlah tersebut, kebanyakan warga Cicurug melakukan aktifitasnya di Kabupaten Bogor hingga Kota Bogor dan bahkan Jakarta.

Bahkan berdasarkan, beberapa keterangan tidak sedikit warga Cicurug yang belum pernah menginjak Kota Sukabumi dan lebih memilih ke pergi ke Bogor. Jika itu ada warga tersebut lebih Bogor dari pada Sukabumi. Dalam persepsi yang lebih luas, warga Bogor merasa lebih merasa Jabodetabek dari pada warga Provinsi Jawa Barat

2. Cicurug Jadi Penanda Navigasi Penting Masa Lalu

Satu yang khas tentang wilayah Cicurug adalah sebagai perbatasan geografis. Di wilayah ini air mengalir ke dua arah ke arah utara semua anak sungai menyatu ke sungai Cisadane bermuara di Tangerang dan ke arah selatan semua anak sungai menyatu ke sungai Cimandiri bermuara di Pelabuhanratu. Dengan demikian, Cicurug menjadi penanda navigasi yang penting sejak masa lampau.

Penduduk dari pantai selatan mendaki ke Cicurug dan kemudian menuruni ke pantai utara terutama ke pelabuhan Sunda Kelapa. Wilayah ini sangat mudah dilalui sebagai interchange antara pantai selatan dan pantai utara. Pada permulaan ekspedisi Eropo-Belanda yang dipimpin Sergeant Scipio tahun 1867 tidak ada indikasi wilayah ini hingga Muara Ratu (kini Pelabuhanratu) telah dihuni penduduk.

Tidak deketahui sejak kapan muncul nama tempat Cicurug. Namun yang jelas ketika Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck (1709-1713) melakukan ekspedisi ke hulu sungai Cisadane dan pantai selatan dibangun satu rumah persinggahan (pesanggrahan) di daerah perbatasan geografis ini. Di area rumah persinggahan inilah kemudian muncul nama kampong Cicurug.

3. Cicurug Pertama Dicatat Tahun 1777

Yang pertama kali mencatat nama Kampung Cicurug adalah Radermacher pada tahun 1777. Radermacher melakukan ekspedisi dari Batavia menyusuri sungai Ciliwong hingga ke Cianjur dan rute yang ditempuh telah melalui Pontjak Megamendoeng (kini Puncak Pas). Radermacher setelah dari Cianjur kembalike Buitenzorg (bogor) melalui Kampung Sukaraja, Kampung Tjilang (Cipelang) dan kampung Cicurug.

Radermacher mencatat melakukan persinggahan dan menginap di pesanggrahan Cisarua, Cipanas dan Cianjur. Radermacher menyebut pesanggrahan di Cianjur dibangun ketika Abraham van Cicurug Riebeeck melakukan ekspedisi ke Cianjur.

4. Cicurug Masuk Wilayah Distrik Cianjur

Kampong Cicurug, meski dekat dengan Buitenzorg (Bogor), menurut Radermacher termasuk wilayah (bupati) Cianjur. Dalam catatan Radermacher diketahui bahwa kampung Cicurug berada di district Pagadongan. District Pagadoengan ini sangat luas.

Wilayah bupati Cianjur dalam catatan Radermacher terdiri dari lanskap sisi timur gunung Megamendung, Cianjur sendiri dan ke arah barat meliputi district-district Gegbrong, Gungungparang, Cimahi, Pagadongan, Jampang, Cikalong dan Ciblagong.

Dari catatan Radermacher diketahui dari Cianjur ke pantai selatan selama tiga hari perjalanan yakni dalam satu hari ke Tjipajong (Pagadongan)l satu hari ke Tjitarik (Pagadongan) dan satu hari ke Cimaja (Pagadongan) di tepi laut. Untuk pedati-pedati yang mengangkut kopi dari gudang Goenoeng Parang ke pelabuhan di muara sungai Cimandiri dibutuhkan delapan hari.

Dalam catatan Radermacher disebutkan bahawa terdapat jurang yang dalam antara Cimahi dan Pagadongan. Besar dugaan jurang ini berada di Cibadak yang sekarang. Sungai Cicatih diduga adalah batas pemisah antara district Tjimahi dan district Pagadongan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Sampaikan Nota Pengantar Raperda, DPRD Mulai Pegang Kendali Pembahasan Perubahan APBD 2026
DPRD Pasang Target: Ratusan SPPG Harus Kantongi PBG dan SLF Sebelum 31 Desember
Budi Azhar Minta Pemkab Sukabumi Tak Asal Tambah Anggaran di APBD Perubahan
DPRD Mulai Bedah Penyertaan Modal Perumda Pesona Pariwisata dan Aturan Ketenagakerjaan
Cimanggu Punya Banyak Potensi, dari Lumbung Pangan hingga Warisan Kerajinan Batu
DPRD Desak Tak Ada Kompromi Kasus Narkoba Kades Tamanjaya, Pemda Diminta Gerak Cepat
Oknum Kades Tamanjaya Positif Sabu, Dewan Batman Soroti Ciemas Darurat Narkoba
Dinas Perikanan Sukabumi Soroti Anomali Aturan BBL, Potensi Besar Nelayan Dinilai Terhambat Regulasi

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 19:26 WIB

Sampaikan Nota Pengantar Raperda, DPRD Mulai Pegang Kendali Pembahasan Perubahan APBD 2026

Kamis, 3 September 2026 - 19:18 WIB

DPRD Pasang Target: Ratusan SPPG Harus Kantongi PBG dan SLF Sebelum 31 Desember

Kamis, 3 September 2026 - 11:22 WIB

Budi Azhar Minta Pemkab Sukabumi Tak Asal Tambah Anggaran di APBD Perubahan

Kamis, 13 Agustus 2026 - 08:39 WIB

DPRD Mulai Bedah Penyertaan Modal Perumda Pesona Pariwisata dan Aturan Ketenagakerjaan

Selasa, 11 Agustus 2026 - 15:35 WIB

DPRD Desak Tak Ada Kompromi Kasus Narkoba Kades Tamanjaya, Pemda Diminta Gerak Cepat

Berita Terbaru